Rabu, 28 Februari 2018

Legenda Puteri Mandalika dalam Tradisi "Bau Nyale"


Dalam masyarakat Lombok, dikenal sebuah cerita rakyat tentang Legenda Puteri Mandalika. Puteri Mandalika ini merupakan anak dari Raja Tonjang Beru dan sang Permaisuri, Dewi Seranting. Mereka tinggal di kerajaan Tanjung Biru.


Ceritanya, si Puteri Mandalika memiliki paras cantik, sikap yang sopan santun dan bijaksana. Karena kecantikannya, ia pun menjadi rebutan para pangeran-pangeran di Gumi Sasak (Lombok). Menjadi puteri yang perebutkan membuat sang puteri gelisah dan tidak tahu harus memilih siapa.

Banyak pangeran yang midang ke Puteri Mandalika. Midang adalah sebuah sebutan masyarakat sasak untuk "Ngapel". Dalam midang tersebut para pangeran juga sekalian melamar sang puteri. Tidak ada lamaran satupun yang ditolak oleh sang puteri. Namun hal itu justru membuatnya kebingungan. Pada sisi lain, jika ia memilih salah satu pangeran maka pangeran lain akan iri dan akan menimbulkan  konflik pertumpahan darah di tengah-tengah masyarakat. Sebab, para pangeran sepakat melakukan peperangan. Siapa yang memenangkan peperangan, dialah yang berhak menikahi Puteri Mandalika.

Kerajaan pun menjadi cemas. Tidak ingin rakyatnya menjadi gaduh karenanya, Puteri Mandalika pun memutuskan untuk mengorbankan dirinya demi keselamatan banyak orang. Ia pun bersemedi. Dalam persemediannya, ia mendapat wangsit untuk mengumpulkan seluruh pangeran bersama rakyat pada saat sebelum subuh, tanggal 20 bulan 10 menurut penanggalan Sasak di Pantai Seger, Kuta, Lombok Tengah.

Pantai Seger, Kuta, Lombok Tengah
Sumber : Medium.com

Pada hari itu, seluruh rakyat penasaran akan rupa Puteri Mandalika, sehingga keadaan pantai menjadi padat dan ramai oleh manusia. Setelah semuanya berkumpul, Puteri Mandalika kemudian mengumumkan bahwa dirinya tidak untuk satu orang, akan tetapi dapat dimiliki oleh semua orang dengan cara ia menjelma menjadi Nyale (cacing laut). Semua kaget mendengar keputusan Puteri Mandalika, termasuk Raja Tonjang dan Dewi Seranting. Puteri pun menenggelamkan diri ke dasar laut. Kedua orang tua Puteri ingin mengehentikan langkah anaknya, namun Puteri sudah menceburkan diri dan ditelan ombak. 

Bersamaan dengan tenggelamnya Puteri, petir, kilat dan angin badai pun datang. Seluruh masyarakat menjadi ribut dan suasana menjadi kacau balau, namun tidak berlangsung lama. Setelah keadaan kembali tenang, dari dasar laut munculah cacing-cacing laut dalam jumlah yang sangat banyak. Semua orang langsung mencari Puteri ke dalam laut, namun sosok Puteri Mandalika tidak kunjung muncul kembali, yang ada hanyalah cacing-cacing laut berwarna warni. Itulah Puteri Mandalika.

***

Huaa, bijak bgt ya Puteri Mandalika. huhu. *elapingus* 

Dan yaaa, akhirnya setiap awal bulan di awal tahun, masyarakat Lombok punya tradisi bernama Bau Nyale. "Bau" dalam bahasa sasak adalah "Menangkap", sedangkan "Nyale" adalah "Cacing Laut" dalam bahasa sasak. Jadi, "Bau Nyale" is "Menangkap Cacing Laut".  Jadi, semua orang pada saat tradisi ini digelar secara beramai-ramai dateng ke Pantai Seger, Kuta, Lombok Tengah untuk menagkap Nyale. /Loh kok ditangkap?/ Nah kalau di masyarakat Lombok nih, cacing laut itu bisa berguna untuk menyuburkan tanah persawahan, selain itu, Nyale juga bisa dikonsumsi. Eits, konsumsinya bukan langsung mentah gitu aja tidaak, tapi  dibersihkan dan dimasak terlebih dahulu. Tenang, cacing ini aman dan memang bisa dikonsumsi kok. *Kumohon jangan jijik ya guys :(* Nah, kalau di masyarakat Lombok biasanya, Nyale dimasak dengan disambeli goreng gitu. /Rasanya gimana? hm, belum tau guyss wkwkw saya sebagai masyarakat sana, belum merasakan Nyale huhu. Oke skip! \^_^/


Nih gambaran Nyalenya yg saya ambil dari Google (phinemo.com)
Kayak karet gelang ya guys, warna warni :v
Kumohon jangan jijik (lagi) ya guys :(


Keramaian festival Bau Nyale

Tradisi Bau Nyale sekarang sudah mulai dijadikan event atau festival guys. Kalau menurut saya ada pro dan kontranya. Pronya, jadi mengangkat pariwisata Pantai Seger, Kuta yang ada di Lombok Tengah, apalagi festival ini juga banyak mendatangkan turis-turis mancanegara. Kontranya nilai kesakralan dari tradisinya jadi mulai terkikis. Yaa semua hal di dunia ini pasti ada lebih kurangnya kekeke xD 

Festival ini biasanya diadain pada akhir bulan Februari guys, namun rangkaiannya bisa sampai bulan Maret, pernah juga diselenggarakan di akhir Januari sampai berakhir di bulan Februari. Jadi, normalnya waktu festival Bau Nyale adalah bulan-bulan di awal tahun kekeke xD Ini mungkin berarti tanggal 20 bulan 10 menurut kalender sasak itu sama dengan bulan-bulan di awal tahun kali yaa, entahlah \^^/

yang jelas, penentuan tanggal Bau Nyale itu dirapatin dulu sama pemangku adat setempat. Kegiatan rapatnya dinamakan "Sangkep Warige".

  Sangkep Warige (Rapat penentuan tanggal Bau Nyale 2018 oleh pemangku adat setempat)
Sumber : lombokita.com
 Sangkep Warige (Rapat penentuan tanggal Bau Nyale 2018 oleh pemangku adat setempat)
Sumber : lombokita.com

Gambaran rangkaian kesenian dalam festival Bau Nyale 
Sumber : www.pedomanwisata.com

Gambaran rangkaian festival Bau Nyale 
Sumber : www.sasambonews.com


***

Sumber cerita legenda Puteri Mandalika : campuran ingetan dari cerita guru waktu masa SD dan https://www.wisatadilombok.com yang diolah jadi versi admin :D :D :D

2 komentar:

  1. hai ain datang singgah sini dan follow awak. salam perkenalan :)
    sincerely , farahain zfa

    BalasHapus

 

Hen'soul❄️ Template by Ipietoon Cute Blog Design